:: Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan. Tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan. Tidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan. Tidak ada keutamaan kecuali dengan Islam. Islam tidak bisa hidup kecuali dengan dakwah. Dakwah tak akan bisa berjalan kecuali dengan jihad. Dan jihad tidak akan bisa berjalan kecuali dengan landasan keimanan.(Umar Bin Khattab) :: http://mentoringfkipums.blogspot.com/

Senin, 09 April 2012

Kualitas Diri

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab hebatnya retorika di hadapan manusia…
Sedang jumlah kata sia-sia yang keluar dari lisan di setiap detiknya lebih banyak dari dzikrullah??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab telah menjadi orang ternama…
Sedang mata masih lebih banyak digunakan memandang hal yang sia-sia bahkan berbuah dosa??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab punya kelas/jabatan dan banyak harta…
Sedang diri masih sering “lalai” di setiap pertemuan dengan Allah dalam shalat oleh urusan dunia??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab merasa telah banyak beramal…
Sedang hati masih berbunga menyimpan segumpal ujub dan riya??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab telah menunaikan separuh agama membentuk sebuah keluarga…
Sedang hak-hak suami/isteri/anak/tetangga terlebih hak-hak Allah masih sering diabaikan dan terlupa??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Sebab merasa telah luas pergaulan dalam berbagai tingkat kehidupan masyarakat…
Sedang adab-adab dan batasan syar’I masih sering dilanggar dan disepelekan dosanya??

Apakah kita berpikir…
Akan bisa tegak berdiri di hadapan Allah di yaumil akhir kelak…
Tanpa rasa malu di hadapanNya…
Sedang tak satu pun amal unggulan yang dapat kita andalkan di hadapanNya??

***

Mengapa kita begitu angkuh berjalan di muka bumi…
Padahal tak satu pun bagian diri merupakan hak milik pribadi…

Mengapa kita begitu sombong akan berbagai kelebihan diri kita…
Padahal semua dapat ditarikNya kapan saja…

Mengapa kita begitu susah berempati terhadap sesama…
Padahal musibah dapat menemui kita kapan dan dimanapun jua…

Mengapa kita begitu susah memaafkan dan hilangkan rasa`benci pada sesama…
Padahal masih lebih banyak alpa diri yang diampuni olehNya…

Mengapa kita begitu susah menebarkan jalinan ukhuwah dengan sekadar wajah ceria, salam erat dan pelukan hangat terhadap saudara…
Padahal kehangatan itu adalah penguat ta’liful qulub kita…

Mengapa??

***

Demi Allah…
Zaman boleh berganti…
Namun jangan pernah biarkan dunia dan isinya membeli prinsip dan izzah diri…
Jangan pernah biarkan tawadhu’ terkikis oleh ujub, riya dan benci…
Jangan pernah biarkan diri dan siapapun juga menggoyahkan dan mengoyak batasan syar’i dan hijab hati yang sejak dulu telah kita sepakati…
Jangan pernah biarkan ukhuwah kita meredup dan kemudian mati…

***

Demi Allah…
Hidup hanya sebentar…
Hanya sebentar…
Tak bisakah kita jaga prinsip dan izzah kita di waktu yang sebentar ini??
Bukankah segala nikmat hari ini tak kan kekal??
Tak bisakan kita berikan kualitas diri dan kontribusi terbaik bagi peradaban ini??

Bukan…
Bukan untuk Allah…
Sebab Allah tak butuh apapun dari kita…
Melainkan untuk diri kita sendiri…
Dan demi cita-cita peradaban kita yang begitu menjulang tinggi…
Berharap kelak terus dikuatkan dari generasi ke generasi…

Laiknya para shahabiyah yang rela menyobekkan kain-kain gorden mereka ketika ayat tentang hijab pertama kali diturunkan…
Laiknya keteguhan Yusuf menjaga izzah dan cintanya pada Allah yang tak tergoyahkan…
Laiknya keteguhan prinsip Bilal yang tak terpatahkan oleh siksa dunia…
Laiknya ketawadhu’an, terlebih kesempurnaan akhlaq Rasulullah nan mempesona…

***

Bertanyalah…
Bertanyalah pada diri kita…
Prinsip apa yang telah terkikis dari diri kita hari ini…
‘Amal mana yang telah memudar dan hilang dari diri kita hari ini…

Dan bertanyalah…
Kelemahan apa yang telah menggurita dan meninabobokan diri kita hari ini…
Penyakit hati jenis apa yang mulai membenih dalam diri kita hari ini…
Kenikmatan apa yang telah melalaikan hati kita hari ini…

Sekali lagi…
Zaman boleh berganti…
Namun jangan pernah biarkan dunia dan isinya membeli prinsip dan izzah diri…
Jangan pernah biarkan tawadhu’ terkikis oleh ujub, riya dan benci…
Jangan pernah biarkan diri dan siapapun juga menggoyahkan dan mengoyak batasan syar’i dan hijab hati yang sejak dulu telah kita sepakati…
Jangan pernah biarkan ukhuwah kita meredup dan kemudian mati…

Tanyakanlah pada diri kita…
Kemudian jawablah dengan perbaikan kualitas diri dan amal nyata tanpa jeda…

***

Temukan potensimu…
Lejitkan ia…
Lalu melangkahlah tanpa ragu…
Hingga syahid menjemputmu…
Salam JIHAD!!!

Sumber: http://mujahidah-farma.blogspot.com/2011/10/kualitas-diri.html

Sabtu, 28 Januari 2012

Memulai Dari Akhir


Bismillahirrahmanirrahiim

Saudaraku,
setiap cita-cita, harapan yang membuncah di hatimu
sesungguhnya adalah anak panah yang siap dilesatkan dari busurnya
Ia seperti kuda gagah terhebat yang siap berlari di padang luas
Ia ibarat tinta yang siap untuk menuliskan berlembar tulisan, bahkan berjuta buku
Ia adalah gelegak hati yang ingin segera terpenuhi
Ia selalu kita rindukan kemunculannya,
Hingga membungai tidur kita

Inilah cita-cita
Seperti keharuan dan kerinduan yang mengharu biru di doa Umar bin Khattab ra agar wafat di Madinah, hanya di Madinah. Seperti doa Sa’d bin Mu’adz ra saat perang Khandaq, agar Alloh hanya mengambil nyawanya setelah memerangi bani Quraizhah. Bani yang telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah dan kaum muslimin. Keduanya menemukan muaranya,Umar bin Khattab wafat di Madinah. Sa’d bin Mu’adz ra terluka di perang Khandaq namun syahid ketika terjadi perang Bani Quraizhah. Kesyahidannya dicemburui semua penghuni bumi, kesyahidan yang mengguncangkan Arsy Allah. Dan jenazahnya diangkat oleh para malaikat (T_T). Sungguh cita-cita mulia bertemu dengan penggenapan dari Rabb tercinta.

Saudaraku,
Mari kita mulai dari akhir
Muara mana yang kita pilih untuk berlabuh
Daratan mana yang kita pilih untuk singgah
Sebutkan saja, tanpa ragu

Rasulullah SAW yang mulia, telah mengajarkan betapa azzam menggapai yang akhir itu menjadi energi dahsyat yang menggetarkan hati. Saat itu, di perang Khandaq. Kala menghantamkan cangkulnya ke tanah yang keras, Rosulullah menyampaikan masa gemilang di masa yang akan datang.


“Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang bercat merah saat ini.

Allahu Akbar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah saat inipun aku bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih.
Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a.”

Bagi orang yang tak beriman, pasti sabda Rasulullah itu seperti dongeng pengantar tidur, fabulous, luar biasa tapi fiktif. Bagaimana mungkin dengan kondisi saat itu yang sangat menyedihkan, mereka akan membebaskan negri-negri besar? Ya saat itu, saat perang khandaq. Ketika para shahabat harus terus menggali parit dengan rasa lapar menyengat karena sedikitnya makanan, rasa letih mendera. Sementara kemenangan seperti utopia semata, kemenangan seperti secuil hitam ujung kuku. Bagaimana mungkin mereka akan membebaskan Syam, Persi dan Yaman.

Tapi sejarah telah menorehkan dengan tinta emas
Semuanya ditaklukkan, walau saat itu Rasulullah telah berpulang ke haribaan Allah.

Ah itukan Rasulullah…apalah kita ini
Saudaraku, mari kugandeng tanganmu menyusuri sepenggal episode pemuda paling mempesona, Muhammad Al-Fatih

Latuftahannal konstantinniyyah falani’mal amiiru amiiruha wala ni’mal jaysu daalikal jays”

"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pasukan pada saat itu dan sebaik baik pasukan adalah pasukan pada saat itu."

Para shahabat berlomba, bergemuruh kerinduan. Ingin segera merealisasikan janji Allah dan RasulNya. Ingin berperan dalam membebaskan Konstantinopel. Khalid bin Walid mampu membebaskan Damaskus, tapi konstantinopel belum tersentuh. Shalahuddin Al-Ayyubi, sang pembebas Al-Quds, ikut mengambil bagian tapi belum mampu meruntuhkan benteng-benteng Konstantinopel.
D antara jiwa yang bergemuruh untuk memenuhi janji Rasulullah adalah Muhammad Al-Fatih. Ia tidak duduk menunggu. Ia berkemas, bersiap, dan berdoa. Ia tahu hanya pasukan terbaik yang mampu membebaskan Konstantinopel. Dan sebaik-baik pasukan adalah yang paling dekat dengan Rabbnya
Hidupnya dihabiskan untuk banyak beribadah dan menuntut ilmu. Ia belajar ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.Ia ingin menjadi sebaik-baik pasukan yang telah disabdakan oleh Rasulullah.

Inilah sepenggal kisah di sepertiga malam menjelang penyerbuan
Dihadapan pasukannya yang berdiri, Muhammad Al-Fatih berkata:

”Amanah ini hanya layak dipikul orang terbaik. Tujuh ratus tahun lamanya nubuah Rasulullah telah menggerakkan mujahid-mujahid tangguh, Tapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan kepada kalian:

Yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, duduklah
Yang pernah meninggalkan shoum Ramadhan, duduklah
Yang pernah mengkhatamkan Al-Qur'an lebih sebulan, duduklah
Yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur'annya, duduklah
Yang pernah kehilangan shalat malamnya, duduklah
Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, duduklah."

Semua anggota pasukannya duduk satu-persatu, sesuai tingkatan dimana amal sholih telah mereka kerjakan. Hingga di akhir pertanyaan, tak ada lagi anggota pasukan yang berdiri, semua duduk sambil penuh isak tangis dan takut tidak diikutkan dalam peperangan. Hanya satu orang yang tersisa berdiri, dialah sang pemimpin pasukan itu, Muhammada Al-Fatih. Subhanallah...

Muhammad Al-Fatih memilih seperti apa dirinya di masa yang akan datang. Memulai hidupnya dgn menentukan akhir yg ingin direngkuhnya. Dan sekali lagi, Allah menggenapkan cita-citanya. Sejarah mencatat, keberhasilannya membebaskan Konstantinopel dalam usia yang masih sangat muda, 23 tahun.

Nah sekarang saudaraku, bagaimana dengan kita?


Ah, hebatnya kalau aku bisa jadi apoteker yg alim, yang membebaskan manusia dari obat yang haram

Duhai, andai aku jadi pengusaha kaya semacam Abdurrahman bin Auf, yang hartanya penuh keberkahan
Mantapnya, kalau bisa jadi web designer hebat yang akan mengabarkan kebenaran Islam kepada dunia

Tapi tentu saja tidak cukup hanya berangan-angan, dan mimpi kosong. Aha, kalau kita hanya duduk-duduk, menghabiskan waktu dengan bercanda ria, maka cita-cita menjelma menjadi angan-angan kosong-maaf- hanya sampah.

“Kau harap keselamatan
Namun tidak kau tempuh jalannya
Sesungguhnya kapal tak mungkin
Berjalan di daratan.”

Karena cita-cita bukan hanya diam
Cita-cita adalah energi yang mendorong pecitanya selalu maju, melesat
Energi yang diciptakannya membuat yang tampak mustahil menjadi mungkin
Mengubah yang sukar menjadi mudah
Mendekatkan yang jauh menjadi dekat

Cita-cita mulia mengalirkan keberkahan
Cahayanya meletup-letup, bersinar ke penjuru, menerangi gulita
Ibarat rekah fajar membelah malam

Cita-cita harus diperjuangkan…sekaligus dimohonkan penggenapannya oleh Robul Izzati. Jangan terburu cemas melihat panjangnya perjalanan. Karena bila kita sudah mulai melangkah, jaraknya akan semakin dekat. Jangan terburu takut dengan terjalnya tebing, Karena kita dikaruniai kaki yang kokoh dan pijakan yang kuat. Dan apabila lelah, letih, menderamu. Ingatlah tak ada yang sia-sia. Peluh, keringat, cucuran air mata, bahkan luka yang berdarah-darah, mendapatkan balasan yang setimpal. Semakin gelap perjalanan, Insya Allah semakin dekat pada fajar kemenangan


“Dan apabila hamba-hambak-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa bila ia berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah:186)
”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah : 214)

Semuanya seimbang dalam takaran. Yang tidak beriktiar, cacat dalam syari’at. Yang terlalu memuja iktiar, yakin semua hasil karena cucuran keringatnya sendiri, Telah menodai tauhidnya.

Saudaraku,
Sekarang sebutkan muaramu
Sebutkan daratan yang ingin kau singgahi
Tunjuk langit-langit dunia yang ingin kau jelajahi
Cakrawala mana yang ingin kau sibak
Bismillah…kita mulai perjalanan untuk menempuhnya
Semoga Allah menggenapkannya
Amin


Medio des 2009
di atas kereta api prameks jogja-solo, berlanjut di halaman belakang rumah.

Nb: Artikel ini di ambil dari note salah satu teman sy, yg sudah sekali dimuat, tapi sengaja dimuat lagi, semoga berManfaat..

Selasa, 27 Desember 2011

Progam Kerja Mentoring FKIP UMS periode 2011-2012 yang ditetapkan di Musyawarah Kerja Mentoring FKIP.

A. 
A.    Departemen Kaderisasi
*      Pemetaan Halaqoh
*      Kajian Mentor
*      Up-Grading
*      Training Kementoringan
*      Mentoring Plus
*      Evaluasi Mentor

B.     Departemen Pengembangan Materi dan Evaluasi
*      Jurnal dan Evaluasi
*      Lembar Mutaba’ah
*      Suplemen
*      Buku Panduan
*      Penilaian Akhir dan Sertifikat
*      Ujian Mentoring
*      Buletin
*      Mading

C.    Departemen Pemantau Lapangan
*      Pemantauan Lapangan
*      Koordinasi KMJ
*      Pembuatan Almamater
*      Sarasehan Perjurusan

D.    Departemen Humas
*      Update Blog Mentoring
*      Sosialisai Mentoring
*      Silaturahim Fakultas dan Universitas
*      FULDKIP
*      Kegiatan Ramadhan
*      Baksos
 

Jumat, 17 Juni 2011

Perkara Yang Mencegah Datangnya Hidayah

Tidak Punya Kesiapan Menerima Hidayah.
Sesungguhnya hal ini telah saya sebutkan, yaitu bahwa hati orang yang bersangkutan tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah, tidak punya kemauan untuk itu, tidak menyukainya, tidak mencarinya, dan tidak pula menginginkannya dengan keinginan yang keras.
Sesungguhnya sebagian orang ada yang tidak memperhatikan apakah dirinya beroleh petunjuk ataukah sesat. Dia pun tidak punya perhatian untuk menimba ilmu atau meraih faidah yang berguna. Dia sama sekali tidak perhatian untuk menuntut ilmu agama atau tidak menuntutnya.
Akan tetapi, seandainya keluarganya tidak punya roti (beras), tentulah problem ini lebih penting baginya daripada mengetahui makna surat al Fatihah atau hal-hal yang dpat menunjukinya kepada masalah-masalah agamanya yang bersfiat fardhu 'ain atau sunnah Nabi Shallahu alahi wasslam dalam shalatnya.
Orang seperti ini tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah dan tidak pula memperhatikannya. Sehubungan dengan hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:
"Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu." (QS. al-Anfal [8] : 23)

Minggu, 22 Mei 2011

Akibat Isti'jaal: Tersebarnya Kemungkaran

Akibat merajalelanya aneka jenis kemungkaran sambil tidak mengetahui bagaimana jalan keluar yang harus dilakukan, dapat juga menjadikan seorang aktivis bersikap isti'jaal.
Zaman sekarang ini rasanya kita hampir tidak mungkin bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, kecuali kita melihat kemungkaran berlalu lalang di sekeliling kita. Padahal, sebagai seorang muslim, ketika kita melihat kondisi yang seperti itu, kita wajib memberantasnya agar bumi ini tidak berubah menjudi pusat kejahatan dan kerusakan. Firman Allah SWT :
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ
"Seandainya Allah tidak menolak (kerusakan) sebaahagian manusia dengan sebagian lain, pasti rusaklah bumi ini ..." (QS. Al-Baqarah [2] : 251)

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"... Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain niscaya telah dirobohkan biara-biara nasrani,rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolng agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hajj [22] :40)
Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wassallam:
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika masih juga tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim dan Abu Daud)
"Perumpaan orang yang berpegang teguh pada aturan Allah dan orangyang melanggarnya diibaratkan seperti penumpang sebuah kapal laut: Ada yang berada di bawah harus mengambil keperluan minum dari atas. Kemudian mereka berkata, 'Sebaiknya kami lubangi saja kapal bagian kami ini agar tidak merepotkan penumpang yang berada diatas kapal. 'JIka tindakan mereka dibiarkan maka akan binasa semuanya. Jika mereka dicegah, niscaya selamatlah seluruh penumpang yang ada didalamnya." (HR Bukhari)

Sabtu, 21 Mei 2011

Muhasabah

Umar Al Faruq berkata :

حَاسِبُوا أنْفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُا وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا وَ تَزَيَّنُوا لِلعَرْضِ الأَكْبَر

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan berhiaslah (beramal shalihlah) untuk persiapan hari ditampakkannya amalan hamba. [At Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah]
Hakikat muhasabah ialah, menghitung dan membandingkan antara kebaikan dan keburukan. Sehingga, dengan perbandingan ini diketahui mana dari keduanya yang terbanyak.  [Ibnu Qoyyim]
Ibnu Mas’ud berkata,”Cukuplah sesorang itu berdosa jika dikatakan kepadanya “bertakwalah kepada Allah”, lantas ia berkata ‘Urus dirimu sendiri, orang seperti kamu mau menasihatiku?”
Pada suatu hari Khalifah Harun Ar Rasyid keluar naik kendaraan untanya yang mewah dan penuh hiasan, lalu seorang Yahudi berkata kepadanya: “Wahai, Amirul Mukminin. Bertakwalah engkau kepada Allah,” maka beliaupun turun dari kendaraannya dan sujud kepada Allah di atas tanah dengan penuh tawadhu` dan khusyu. Khalifah kemudian memerintahkan agar kebutuhan orang Yahudi tersebut dipenuhi.

Kamis, 21 April 2011

'Kartini' dan 'Kartono' Menyoal Feminisme Hari Kartini


Bulan April, apa sih yang ada di benak kamu? Hari Kartini, pastinya. Hari yang diyakini sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak bosan-bosannya topik ini dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme dengan judul baru bernama pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program mereka, kaum perempuan tak berdaya.

Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para perempuan untuk mau ‘berjuang’. Nah, salah satunya lagu di bawah ini neh.
Di era tahun 80-an, ada lagu yang berlirik seperti ini:
Semenjak Kartini itu lahir di hari itu
Contoh dan teladan diberi pada kaumku
Wanita bukan budak yang hina
Anggapan lama semua kaum pria
Gunung kan kudaki laut kuseberangi
Mencari Bahagia
Aku disakiti aku diingkari
Dan aku dihina
Apa pria tega menghina wanita
Sayang sayang sayang
Adam tanpa hawa
Tak ada artinya
Sayang sayang sayang.
Waduh, hafal banget yah? Hehe, kebetulan aja kakak-kakak saya -
yang cewek adalah penggemar lagu melow, salah satunya adalah lagu ini. Dan kebetulan aja saya yang saat itu masih pake seragam putih merah alias SD teringat dengan lirik ini. Coba deh kamu tanya ke mamamu yang barangkali aja ingat dengan lagu ini.
Kita bukan mau berlatih olah vokal. Saya juga tak akan mengajari kamu bagaimana cara menyanyikan lagu ini. Tapi saya akan ajak kamu untuk berpikir kritis dalam menyikapi hari Kartini dan juga lagu-lagu sejenis ini. Supaya apa? Supaya kamu nggak terjebak dan terjerumus dengan ide feminisme yang kedengarannya aja manis di mulut dengan tajuk perjuangan hak perempuan. Padahal mah ide ini jauh panggang daripada api, alias nggak ada bagusnya bagi perbaikan nasib dan harga diri kaum perempuan sendiri. Nggak percaya? Baca aja lanjut, okay?

Rabu, 30 Maret 2011

Israaf : Lalai Terhadap Realitas Kehidupan dan Bermewah-mewah

Umat manusia saat ini dapat diibaratkan sedang berdiri dipinggir suatu jurang yang amat dalam. Jika bumi digoncangkan dari bawah, niscaya mereka akan jatuh dan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan dan kehancuran.
Keberadaan kaukm muslimin sendiri saat ini kebanyakan tengah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka tengah diliputi oleh kehinaan, kepiluan, dan kerendahan martabat, baik karena masalah ekonomi, sosial, politik dan yang lainnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang “beku” perasaannya dan “mati” rasa belas kasihannya ia akan mudah berlakuk israaf, yakni hidup dengan bermewah-mewah dan mengumbar kesenangan duniawi.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memperhatikan dan memprihatinkan keadaan umat manusia, baik sejak sebelum Beliau SAW diutus menjadi sorang rasul maupun setelahnya, sehingga Beliau sempat mendapat teguran dari Allah. Sebagaimana firman-Nya :
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
“Maka (apakah) barangkali engkau membunuh dirimu karna bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (QS. Al-Kahfi [18] : 6)
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.” (QS. As-Syura [26] : 3)
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihanmu terhadap mereka.” (QS. Fathir [35] : 8)

Kamis, 24 Februari 2011

Wahai Ummat Islam Bersatulah!

Melihat atau membaca berita pada akhir-akhir ini seperti ada yang sedang “bermain” dan berusaha mengadu domba ummat Islam Indonesia, bahkan di dunia, dengan berbagai cara, cara yang paling terlihat adalah menjadikan FPI (Forum Pembela Islam)sasaran “tembak” atau”kambing hitam” terlepas dari cara-cara FPI yang terkadang anarkis, yang juga sering kali dibantah oleh anggotanya sendiri, kalau gitu jangan-jangan ada orang yang”menyusup” masuk ke dalam FPI, kemudian membuat kelakuan seolah-olah FPI, sehingga cap FPI yang anarkis melekat.
Kalau memang benar adanya, hati-hatilah dalam berjuang, karena bisa saja orang seperti Abdulllah bin Ubay menyusup ke mana-mana, termasuk kedalam organisasi atau ormas-ormas Islam. Dalam sejarah Islam -nah lagi-lagi saya bicara tentang sejarah- ada rajanya munafik yang selalu merongrong nabi dari dalam! Mengaku beriman, tapi berkali-kali nabi “ditikam” dari dalam. Umar bin Khottob berkali-kali menyarankan pada nabi agar “menghabisi” Abdulllah bin Ubay ini, namun bijaknya nabi bersabda:” Kalau Abdullah bin Ubay dihabisi, nanti orang bilang, lihat nabi telah menghabisi saudaranya sesama muslim!”
Nah para munafik sejenis Abdullah bin Ubay bergentayangan di Indonesia, bisa saja mereka memakai “baju”ormas Islam, tapi di dalamnya berusaha sedang menghantam Islam dari dalam! Agar ummat dicitrakan buruk, anarkis, tak tahu diri, radikal, teroris dan lain sebagainya. Sehingga nama Islam menjadi hancur di mata dunia! Nah memang itu sasarannya, Ummat Islam di mana-man sedang diadu domba, termasuk di Indonesia. Diadu dengan sesama ormas Islam, diadu dengan pemerintah, diadu dengan oraganisasi lainya dan lain sebagainya.
Saya bukan membela FPI, saya bukan anggota dan bukan simpatisan FPI, saya hanya ingin kedamaian dan ketentraman terbentuk di negara tercinta Indonesia. Hanya saja saya cinta Indonesia, negara yang besar ini kalau dibentangkan di Amerika Serikat, akan menutup negara tersebut dari ujung barat ke ujung timurnya! Kalau negara kita dibentangkan di Eropa seluruh Eropa akan tertutup oleh negara kita!
Kita negara besar dan kalau mau dibandingkan dengan negara Singapur, Singapur “tak ada apa-apanya” secara fisik Singapur bila dimasukan ke pulau Kalimantan akan “lenyap ditelan” hutan belantara Kalimantan! Singapur kecil sekali, makanya lebih mudah mengurusnya, tak sebanding dengan Indonesia yang begitu luas, tidak banggakah anda menjadi orang Indonesia yang begini luas?
Nah kalau negara kita yang begini luas mau dipecah belah, paling mudah! Karena negara kita terdiri dari ribuan pulau, dengan suku, bangsa, bahasa, agama, keyakinan yang berbeda satu sama lain! Awas, jangan sampai kita kembali seperti usaha Belanda memecah bangsa Indonesia, ingat sejarah bung!
Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ingat “jasmerahnya” Bung Karno! Ketika Belanda berhasil memecah belah bangsa Indonesia, pernah negara Republik Indonesia itu menjadi bagian dari RIS, Republik Indonesia Serikat! Ada negara Jawa Timur, negara Pasundan, negara Sumatera , negara RI dan lain sebagainya. Dengan presidenya adalah “boneka-boneka” Belanda!
Adu domba telah menghancurkan Irak, adu domba telah menghancurkan Palestina, adu domba telah menghancurkan Afganistan! Ingat, itu adalah negara-negara yang penduduknya tunduk dan sujud kepada Allah SWT, tapi berhasil dipecah belah sedemikian rupa oleh “tangan-tangan kotor” yang haus kekuasaan dan minyak atau SDA lainnya.

Sabtu, 19 Februari 2011

Bahaya Zina

 "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk." (Al-Isra': 32).

Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan bahaya yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan dengan aturan universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan nasab keturunan, menjaga kesucian dan kehormatan diri, juga mewaspadai hal-hal yang menimbulkan permusuhan serta perasaan benci di antara manusia disebabkan pengrusakan terhadap kehormatan isteri, putri, saudara perempuan dan ibu mereka. Dan ini jelas akan merusak tatanan kehidupan. Melihat hal itu semua, pantaslah bahaya praktek zina itu -bobotnya- setingkat di bawah praktek pembunuhan. Oleh karena itu, Allah I  menggandeng keduanya di dalam Al-Qur'an dan juga Rasulullah  dalam keterangan hadits beliau.
 Al-Imam Ahmad berkata: "Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina." Dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:  "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali  dengan (alasan) yang  benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat ..." (Al-Furqan: 68-70).